Dalam sudut pandang pakar ekonomi, smart city sejatinya tidak menghabiskan anggaran, justru bisa menghemat biaya pembelanjaan untuk jangka panjang.
Internasional, Radius – Apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan smart city selain sumber daya manusianya? Tentunya adalah anggaran. Di Indonesia sendiri, program “Menuju 100 Smart City” memasukkan aspek finansial di dalamnya. Lalu, seberapa mahalnya mewujudkan cita-cita kota pintar ini?
Biaya murah jelas bukan frasa yang sering digunakan dalam smart city. Tetapi, pengurangan biaya akan lebih tepat untuk disematkan sebagai iming-iming ketika solusi cerdas dalam kota pintar diimplementasikan. Pasalnya beberapa penelitian menunjukkan bahwa teknologi yang diterapkan di smart city dapat mengurangi biaya.
Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Susanne Dirks, konsultan bisnis dan internet internasional. Dia bersama timnya telah merilis laporan yang berjudul Smarter Cities for Smarter Growth pada tahun 2010 lalu.
Menurut mereka, alih-alih menghabiskan banyak uang untuk menuju kota pintar, justru sistem kota yang lebih cerdas dapat menciptakan penghematan biaya yang signifikan dan peningkatan efisiensi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa menuju smart city tentu akan bertransformasi secara digital dan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Namun Dirks menganggap bahwa ini semacam investasi jangka panjang yang menjanjikan.
“Pemimpin yang cerdas tentu akan memanfaatkan peluang yang dihadirkan oleh pergeseran menuju smart city, sambil mengatasi tantangan perubahan demografis dan kesenjangan yang ada,” kata Dirks.
Dirks mencontohkan smart city untuk mengatasi kemacetan. Menurutnya, di Inggris Raya diperkirakan setiap terjadi pengurangan 5 persen waktu perjalanan, maka akan menghasilkan penghematan biaya sekitar USD3 miliar.
Sementara itu, di Amerika Serikat, kemacetan di daerah perkotaan mengakibatkan pembengkakan biaya tahunan sebesar USD87 miliar dari bahan bakar yang terbuang dan hilangnya produktivitas. Kemacetan juga mempengaruhi keselamatan publik secara global. Di mana, lebih dari 1,2 juta orang tewas dalam kecelakaan transportasi dan tercatat ada 50 juta kecelakaan di jalan raya per tahunnya.
Krisis ekonomi global yang terjadi, menjadi tantangan ekonomi yang cukup serius di berbagai kota di dunia. Sehingga, harus dimengerti bahwa pembuat kebijakan akan terfokus untuk menciptakan lapangan kerja dasar daripada tujuan jangka panjang.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kota pintar bukanlah sebuah teknologi tetapi tujuan berkelanjutan untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Inilah mengapa kota perlu mengembangkan respons yang lebih strategis, bukan hanya menciptakan peningkatan kuantitas suatu sarana dan prasarana melainkan juga kualitasnya.
“Banyak kota yang memiliki potensi harta karun berupa data yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalah. Para pemimpin perlu meninjau hal tersebut untuk dianalisis dengan cermat sehingga dapat mengambil kebijakan yang tepat. Cara baru ini dapat mengurangi biaya atau mengelola dan memberikan layanan secara lebih efisien,” jelas Dirks.
Dirks mengakui bahwa teknologi informasi modern yang digunakan untuk menuju kota pintar telah memberikan momok dan tantangan tersendiri. Hal itu adalah sesuatu yang wajar ketika menemukan sesuatu yang baru. Namun, bukan berarti teknologi harus ditakuti. Karena, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, bukan hanya praktis, tetapi juga, dalam jangka panjang, hemat biaya dan bijaksana.

Ilustrasi biaya menuju smart city. (mau)
Disisi lain, terkait biaya yang harus diinvestasikan untuk menuju smart city, Nicos Komninos, profesor di Universitas Aristoteles di Thessaloniki dan CEO Intelspace Innovation Technologies SA, mengklaim bahwa selain prosedur yang lebih baik dan kemampuan pemecahan masalah, biaya operasi yang lebih rendah juga merupakan kriteria untuk kecerdasan.
Artinya, para pemimpin seharusnya tidak menghamburkan uang kota mereka dengan membeli jutaan kabel atau memasang jaringan internet saja. Melainkan, dengan melakukan pembenahan terhadap prioritas masalah mereka, sehingga dapat menghemat belanja publik.
Dalam lingkungan dengan keterbatasan anggaran publik, pengelolaan kota yang sembrono akan memberikan dampak berupa penurunan nilai investasi dan peningkatan biaya operasional layanan kota serta infrastruktur.

Smart city bukan revolusi tapi evolusi inovasi jangka panjang. (ist)
Hal ini juga didukung oleh penelitian Taewoo Nam, and Theresa A. Pardo, PhD., tim peneliti di Pusat Teknologi Universitas di Albany, State University of New York. Mereka mengatakan bahwa smart city bukanlah sebuah label yang dibeli demi status yang dipamerkan. Melainkan, merujuk pada inovasi untuk berani bertransaksi dengan masalah yang ada.
Inovasi tentu memiliki peluang dan risiko. Nam dan Pardo sepakat menyebutkan bahwa kota pintar diibaratkan sebagai laboratorium hidup untuk bereksperimen. Tetapi, dalam suatu eksperimen pasti memiliki tujuan yang mengarah ke kehidupan yang lebih baik.
“Kami mengidentifikasi kota pintar sebagai kota dengan komitmen komprehensif terhadap inovasi dalam teknologi, manajemen, dan kebijakan. Inovasi untuk kota pintar membawa peluang dan risiko pada saat yang bersamaan,” jelas keduanya pada laporan ilmiah berjudul Smart City as Urban Innovation: Focusing on Management, Policy, and Context2011 lalu.
Meskipun, smart city adalah tujuannya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Namun, pemerintah masih selalu menjadikan alasan biaya mahal untuk menunda cita-cita global ini.
Padahal, saat ini biaya operasional akibat kebijakan yang sering salah sasaran atau tidak mencapai tujuan yang diinginkan, justru mengalami pembengkakan biaya. Apabila dipertimbangkan secara matang berdasarkan skala prioritas, maka smart city adalah investasi yang menjanjikan.
“Salah satu dari banyak alasan untuk memulai investasi cerdas ini adalah karena sistem kota terus beroperasi dan memiliki biaya yang terus meningkat,” lanjutnya.
Smart city tidak seperti membeli kucing dalam karung. Bukan pula gambling yang dilakukan dengan menghamburkan uang secara asal-asalan. Tetapi, butuh komitmen pimpinan dan strategi menggunakan anggaran dengan tepat guna. Kota pintar bukanlah revolusi tetapi evolusi jangka panjang.

